Senin, 16 Desember 2013





 Berfoto di depan pintu masuk kampung Pulo

Selain candi Cangkuang , di sekitar sana juga ada Kampung Pulo atau kampung adat. Menurut cerita dulunya mereka beragama Hindu, makanya di sekitar situ ada peninggalan candi. Baru kemudian Mbah Dalem Alif Muhammad datang beserta teman-temannya dan beliau menyebarkan agama Islam pada penduduk kampung Pulo ini. Mbah dalem Alif ini mempunyai enam orang anak dan salah satunya adalah pria. Makanya di kampung Pulo didirikan 6 buah rumah adat yang berjejer berhadapan , tiga di sebelah kiri dan tiga di sebelah kanan. Di sana ada sebuah mesjid. Ternyata menurut kepercayaannya rumah mereka tidak boleh lebih dari enam, jadi tidak boleh ditambah. Makanya kalau ada anak yang sudah menikah , harus keluar dari kampung tersebut paling lambat dua minggu setelah menikah.Ternyata adat waktu mereka beragama Hindu masih terbawa sampai sekarang, dan itu terbukti masihnya mereka melaksanakan upacara ritual Hindu.


Waktu berkunjung ke kampung Pulo, memang keadaannya tidak ramai karena memang hanya terdiri dari 6 kepala keluarga, makanya kampung mereka sulit untuk berkembang .Hanya dipakai sebagai cagar budaya, dimana wisatawan bisa melihat kehidupan mereka , bahkan ada yang menggunakan kampung Pulo ini sebagai subjek penelitian. Ternyata merekapun masih taat dengan adat setempat yang kadang menurutku sih aneh sekali, seperti tidak boleh berziarah pada hari rabu, dan tidak boleh bekerja berat dan waktu itu malah mbah dalem Alif malah tidak boleh menerima tamu karena pada hari rabu ini digunakan untuk mengajarkan agama.  Selain itu , kalau mau berziarah perlu mematuhi syarat-syaratnya seperti  bara api, kemenyan, minyak wangi, bunga-bungaan dan cerut yang katanya akan mendekatkan peziarah dengan roh para leluhur. Nah, ini yang sungguh aneh ya, disisi lain sudah menganut ajaran Islam tapi di sisi lain masih mempercayai adat yang sebetulnya bertentangan dengan ajaran Islam.

Bentuk atap rumah juga masih dipertahankan yaitu bentuknya harus memanjang/jolopong, tidak boleh memukul gong dan tidak boleh memelihara hewan ternak berkaki empat seperti sapi,kambing dan lain-lain. Dan setiap tanggal 14 Maulud  ada upacara memandikan benda pusaka. Dan lucunya yang boleh menguasai rumah adat adalah wanita dan akan diwariskan kepada anak perempuannya dan untuk anak laki-laki harsu meninggalkan kampung tersebut.

Mungkin melihat kampung dengan hanya enam rumah , sangat aneh . Dan suasananya juga sepi dan jarang ada anak yang berkeliaran di sekitarnya. Di saan juga bisa berfoto di depan rumah adat mereka , bahkan kalau mau bertamu juga dibolehkan.. Waktu saya ke sana , di salah satu rumah mau diadakan hajatan sunatan dan banyak orang berkumpul untuk membantu masak buat acara hajatannya. Kalau di lihat keseluruhan objek wisata di desa Cangkuang ini unik menarik. Ada kampung Pulo, Candi Cangkuang yang harus melewati situ Cangkuang yang airnya tenang dengan gunung dan hamparan pepohonan yang hijau , menambah kesejukan dan keindahan daerah tersebut. Jadi jalan-jalan ke Garut jangan lupa mampir tempat wisata yang penuh pesona ini.


 





 Rumah adat kampung Pulo yang hanya berjumlah enam dengan bentuk yang sama




2 komentar:

menujumadani mengatakan...

Ini benar satu kampung cuma 6 rumah, trus jumlah warganya berapa?

Tira Soekardi mengatakan...

iya bener, jumlah penduduknya 21 orang !1 wanita dan 10 pria. Unik ya

Posting Komentar