Selasa, 04 Februari 2014





 Di atas perahu menyusuri sungai untuk melihat pasar terapung

Perjalanan kali ini di kota Banjarmasin dimulai saat subuh tiba, karena pasar terapung ini hanya beroperasi pagi hari. Saat masih gelap saya sudah meluncur dari hotel dan sampai di dermaga perahu yang akan membawa menyusuri sungai. Pasar terapung ini terletak di atas sungai Barito di muara sungai Kuin. Perahu-perahu ini di Banjarmasin disebut dengan jungkung. Mereka sudah mulai berjualan setelah subuh tiba sampai pukul 9 pagi. Dan yang istimewa dari pasar ini adalah adanya barter antar para pedagang yang berperahu yang dikenal dengan bapanduk. Pedagang yang menjual hasil produksinya disebut dengan dukuh sedang tangan kedua yang membeli dari para dukuh disebut dengan panyambungan.
 Rumah-rumah di tepi sungai dalam keremangan pagi


Perahu yang lalu lalang di sungai , masih suasana remang-remang pagi


Kota Banjarmasin juga dikenal dengan kota Air karena letak daratannya beberapa sentimeter di bawah permukaan laut. Kota ini dibelah oleh sungai Martapura sehingga sungai digunakan masarakat setempat sebagai sarana transportasi, perdagangan dan kini sebagai sarana wisata. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti di pasar di darat sehingga tidak diketahui berapa pedagang yang hilir mudik di sungai .


Jungkung yang menjual buah-buahan yang sudah ditaruh di keranjang kecil


Penjual dan pembeli berbaur dalam perahu-perahu yang berlalu lalang

 
Saat saya menaiki perahu , saya agak takut soalnya saya tidak bisa berenang dan saat itu masih gelap hanya diterangi dengan lampu kecil saja. Tapi untungnya perahu motornya agak besar, tidak seperti waktu saya menyusuri sungai Musi di Palembang. Menyusuri sungai dalam keremangan menjelang pagi cukup membuat pesona tersendiri. Langit sedikit demi sedikit berubah warna dari gelap, jingga dan mulai matahari menyembul di sela-sela awan dan matahri muncul dengan sinarnya yang terang dan memancarkan bias-bias yang indah. Waktu melewati pedagang-pedagang mereka mulai menawarkan barangnya, sebetulnya agak bingung memilih karena barang ada di lain perahu, sehingga waktu membeli jeruk dan sudah ada keranjang , langsung dibeli tanpa bisa melihat kualitas jeruknya. Memang sih, jeruk yang bagian atas manis sekali, tapi di bagian bawahnya kecut dan sudah ada yang busuk, begitu pula teman saya yang membeli sawo yang bagian bawah sudah tidak bagus lagi. Ada perahu yang agak besar dan setelah sampai di sana ternyata warung perahu yang menjual makanan untuk sarapan. Akhirnya mampir untuk sarapan di sana, jelas pilih soto Banjar makanan khas Banjarmasin. Saya mengamati pedagangnya waktu meracik sotonya, saya melihat saat telur dibelah kuning telurnya warnanya oranye. Dalam hati sih , apa telur ini pakai pewarna , kok bisa warna tengahnya oranye. Waktu saya tanyakan ternyata telurnya berasal dari itik gambut.Itik gambut adalah itik yang dipelihara di lahan gambut dan mempunyai kuning telur berwarna oranye tua.  Sambil menikmati soto banjar sambil terombang-ambing arus sungai , sambil menatap perubahan warna di langit yang sekarang sudah mulai terasa pancaran sinar mentarinya.


 Meracik soto Banjar di warung terapung

Waktu saya tanyakan pada supir yang mengantarkan ke sini, ternyata aktivitas perdagangan di sungai ini sudah mulai ditinggalkan karena banyak pedagang yang berjualan di pasar di daratan. Memang waktu saya ke sana juga pedagang hanya berjumlah sedikit yang berlalu lalang. Alangkah baiknya pasar terapung ini bisa dipertahankan jangan sampai hilang dan bisa dijadikan tempat wisata belanja yang mengasikan. Masalahnya saya terkesan di pasar terapung ini karena alami , tidak seperti di kota Bandung yang punya pasar terapung yang sengaja dibuat dengan cita rasa modern. Kesederhanaan dan alami ini mungkin bisa digunakan sebagai wisata yang bisa membuat wisatawan berkesan.

Matahari mulai memancar terang  sudah waktunya kembali, dan punya kesan tersendiri di hati. Siapa tahu bisa berkunjung kembali kemari.

6 komentar:

Istiadzah Rohyati mengatakan...

semoga saya masih bisa sempat ke pasar terapung sebelum semuanya pindah ke daratan. etapi jangan sampe pindah semua deh ya. nanti ga ada rekreasi alami lagi... -____-

HM Zwan mengatakan...

seru banget ya mbk,,saya penasaran sama pasar apung ^^

Titis Ayuningsih mengatakan...

Perjalanan yang seru tapi saya belum pernah merasakannya -,-

Tira Soekardi mengatakan...

Mbak Titis Ayuningsih, perjalanan seru itu kadang tdk harus yg jauh kadang yg dekat dg lokasi kota kita jg bisa seru, asal pergi dg org2 yg kita cintai, rasanya....

Tira Soekardi mengatakan...

Mbak HW Zwan, memang pasar ini alami sekali sy suka banget, krn sy pernah jg ke pasar terapung yg sengaja dibuat dan bercita rasa modern dan harga yg dijualpun mahal seperti di Bandung dan Sentul, kurang suka krn tdk alami, selain mahalnya itu..

Tira Soekardi mengatakan...

Betul mbak Istiadzah Rohyati, sangat disayangkan pasar terapung mulai ditinggalkan, bisa dikelola dg baik dan bisa jadi kunjungan wista lokal yg alami asal jangan bercitra modern, alaminya dipertahankan dg harga yg terjangkau masarakat

Posting Komentar