Kamis, 20 Oktober 2016

Buku Untuk Suster





 Gambar dari sini

Aku masih ingat akan kenangan masa-masa SMA. Sungguh masa-masa itu penuh kenangan manis dan kenangan kenakalan remaja yang suka bikin sedikit keonaran . Hanya sekedar lucu-lucan. Mungkin kadang terlihat gila . Tapi entah mengapa aku dan teman-temanku sih suka melakukannya tanpa rasa malu. Mungkin karena sekolahku dulu isinya perempuan semua ya, jadi urat malunya hilang, hiiiiii. Dan satu lagi ditambah dengan kepala sekolah yang penuh dengan banyak aturan yang bikin remaja ini maunya berontak terus. Tapi sekarang baru merasakan betapa didikan beliau itu membuatku menjadi pribadi yang disiplin dalam segala hal. Suster Tresnawati itu nama kepala sekolahku. Hal yang remeh saja dicerewetin sama beliau. Muli dari cara berpakaian dan cara berjalan. Pernah temanku berjalan diseret oleh beliau disuruh berjalan berkeliling kelas. Jadilah tontonan teman-teman yang lain.

Pengalamanku pribadi bersama dengan beliau sangat banyak. Karena aku suka bikin masalah dengan beliau. Suster suka menjuluki dengan mujer, muka jerawatan. Memang aku dulu cuek dalam penampilan jadi boro-boro deh namanya ngurisin muka. Beliau ribut suruh aku sering-sering makan yoghurt agar kulitku mulus. Setiap hari selalu menanyakan ,sudah makan yoghurt? . Makan ya biar gak jerawatan. Keki sekali nih hati!!!!!!. Dan diam-diam ini kepala sekolah selalu memperhatikan sepak terjangku. Dan beliau tahu kalau aku suka pura-pura sakit . Entah mengapa beliau kok bisa tahu. Memang kalau pelajarannya bikin ngantuk aku suka pura-pura pusing dan minta tidur di UKS, lumayan bisa istirahat sejenak atau tidur satu jam atau dua jam pelajaran.  Nah suatu waktu aku pura-pura sakit lagi dan mau istirahat sejenak sebelum pelajaran bahasa Inggris yang mau ulangan. Dan aku berhasil mengelabuhi guru sejarah dan aku tenang di ruang UKS. Aku pasang alarm jam agar aku tak telat karena sesudahnya ada ulangan bahasa Inggris. Saat terbangun dan akan membukan pintu UKS, pintunya terkunci , aku panik. Soalnya aku harus ulangan. Teriak-teriak juga percuma, tak akan yang mendengar. Aku melihat ada lubang angin di atas yang memanjang. Terlintas ide untuk keluar lewat lubang angin. Aku sih percaya diri bakal bisa keluar dari sana karena waktu itu tubuhku imut-imut dengan berat badan hanya 37 kg (sekarang mah jangan ditanya ya????) Kursi serta meja aku taruh di atas temapt tidur sehingga aku bisa menjangkau lubang angin. Dan taraaaa, dengan mudah aku keluar dari lubang angin dan melorot ke bawah dari lubang angin. Aku melenggang kangkung ke kelas, tapi aku rada iseng bukannya masuk kelas tapi aku masuk ke ruang kepala sekolah untuk menyapa suster. Hebatnya suster bisa menahan wajahnya untuk tak berubah sedikitpun tapi esoknya aku tahu ibuku dipanggil beliau.

Banyak pertentangan yang terjadi antara aku dan suster tapi aku merasa beliau sangat peduli denganku. Bahkan ketika aku tidak diterima di perguruan tinggi lewat jalur prestasi, beliau malah mengejek aku kalau aku tak akan bisa masuk ke perguruan tinggi negeri. Tapi justru omongan beliaulah yang memacu aku untuk belajar lebih giat sehingga akhirnya aku bisa berhasil masuk perguruan tinggi. Aku berterimakasih sekali dengan banyak perhatian beliau walau dengan banyak pertentangan yang banyak. Saat kelululusan aku menghadiahkan taplak yang aku sulam sendiri dengan tanda tangan teman-temanku sekelas. Aku melihat air mata tergenang di mata beliau. Tapi berhubung mungkin beliau gengsi nangis di depanku, beliau mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengucapkan terimakasih. Itu momen yang berkesan bagiku. Momen pertama yang berkesan yang berhubungan dengan beliau. Dan ada momen kedua yang berkesan yang berhubungan dengan beliau.

Tigapuluh lima tahun kemudian saat aku tahu beliau ada di kota Bandung dan bekerja di panti asuhan anak-anak, aku ingin mengunjunginya lagi. Aku ingin menghadiahkan buku kumpulan dongeng karyaku untuknya, apalagi sekarang beliau berkarya untuk anak-anak di panti. Aku berkunjung ke biara yang terdapat di dalam sekolah Santa Angela Bandung. Aku kagum dengan beliau , usianya yang sudah di atas 80 tahun jalannya masih tegak dan terlihat sangat awet muda. Senyumnya masih seperti dulu. Dan beliau mengenalku!!!!!. Saat aku memberikan buku karyaku, beliau bilang ah masa ini betul karangan kamu.  Ah, ciri khas beliau yang suka nyeleneh padaku. Untuk kedua kalinya aku melihat air matanya keluar dan kali ini beliau tak gengsi dan membiarkan air matanya turun. Ah, momen yang bagiku momen yang tak pernah aku lupakan. Betapa dulu aku sering bertentangan dengannya tapi beliau ingat dan bangga terhadap diriku. Terimakasih suster. Banyak perkatan suster yang menjadi penyemangat diriku dan semua ketegasan suster dalam menerapkan disiplin membuat aku menjadi pribadi yang lebih baik.

Nah, kalau aku memang suka banget blogwalking. Tujuannya aku bisa banyak baca dengan tulisan yang punya ciri tersendiri. Bagiku semua blog bagus karena setiap tulisan mencerminkan pribadi orang itu. Termasuk mbak Irawati. Aku termasuk yang cukup sering membaca tulisannya. Selalu lengkap dan detail dan ringan.




62 komentar:

Akhmad Muhaimin Azzet mengatakan...

Usia sudah 80 tahun dengan jalan yang masih tegak dan tampak awet muda, hmm... sehat ya beliau.

Gustyanita Pratiwi mengatakan...

Salah fokus, aku jd penasaran dg kumpulan biku dongeng dikau mb tira ^_^

Winda Carmelita mengatakan...

Ah Mamahtira, baca ini aku jadi kangen suster dan romo kepsekku saat sekolah dulu. Apa kabar mereka ya? Sudah pada bertugas di negara lain semua :'(

Noer Ima Kaltsum mengatakan...

pengalaman yang mengesankan ya, ibu hastira. Artikelnya okey

Nefertite Fatriyanti mengatakan...

Pengalamanya menyentuh perasaan banget mba Tira, memperkaya batin

Vera Sitompul mengatakan...

baca judulnya kirain ini sinopsis buku loh mba :D tapi disekolah ku dulu kok gak ada susternya ya ? padahal sekolah katolik loh

Oyong Ilham mengatakan...

pengalaman yg menyentuh juga ni /............

Tira Soekardi mengatakan...

iya pak Achmad tetap cantik, beliau orang Menado

Tira Soekardi mengatakan...

mbak gustyanita penampakannya ada di side bar sebelah kiri di blogku ada buku kumpulan dongeng anak

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak winda kadang kita gak tahu mereka dimana sekarang

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak noer

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak nefertite

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak vera , gak selalu ada suster , suster kan ditempatkan tergantung yayasannya

Tira Soekardi mengatakan...

iya mas oyong

Khoirur Rohmah mengatakan...

Duh... kalo waktu MTS pernah juga kepikiran mau ijin ke UKS kalau kebetulan ngantuk ato bosen sama pelajarannya. etapi belum juga kesampean, wkwkwkwkwkwkk

Febri Dwi Cahya Gumilar mengatakan...

Aaaaaakh :' daleeem :'

Kanianingsih mengatakan...

35 th ga ketemu dan masih mengenal mak Tira, waw luar biasa ya suster..

Tira Soekardi mengatakan...

mbak khoiurur artinya masih adanurani yang mengatakan gak boleh, kalauaku sih cuma pelajaran sejarah saja, habis gurunya suaranya kecil dan bikin ngantuk

Tira Soekardi mengatakan...

gitu ya mas febri

Tira Soekardi mengatakan...

iya mak Kania, daya ingatnya luar biasa

evrinasp mengatakan...

dibalik sifatnya yang keras atau bertentangan, ternyata sebenarnya suster perhatian ya, dan itu cara mendidiknya mungkin

Dewi Nielsen mengatakan...

Hello..salam kenal ya...Sekolahnya dulu sekolah Katholik kah? Kalau iya, sama, aku juga sekolah di sekolah yang dipimpin suster. Suster2nya galak..tapi itu sih yang buat anak2 didiknya beda..sangat populer ditempatku mbak untuk sekolah di sekolah Katholik...:)

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak evirinasp, aneh beliau begitu peduli dg daku walau daku cuek dan suka ngelawan

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak dewi,buakn galak sih disiplin dg banyak aturan sedang remaja kan gak mau banyak dikekang

Lidha Maul mengatakan...

Mbak Tira ini dalem deh, nyentuh banget. Orang-orang yg menegakkan disiplin, keras, justru yang teringat ya.

titik suswati mengatakan...

Salut mb

angkisland mengatakan...

semoga Allah jaga guru" yg baik di Indonesia ini mah... dan bikin murid yang jujur di generasi selanjutnya...

Kang Nurul Iman mengatakan...

Sepertinya kalau jaman sekarang kurangnya dari ahlak deh mbak karena kebanyakan murip jaman sekarang mah tidak memiliki ahlak yang baik jadi susah untuk berbuat kebaikan dan cenderung lebih ke perbuatan yang kriminal.

Nathalia DP mengatakan...

Beliau pasti bangga ya sama mba :)

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Terharu membacanya mba..beliau pasti sangat perduli dan bangga dgn mamahtira :)

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak lidha, tegas dan banyak aturannya bikin aku jadi disiplin juga

Tira Soekardi mengatakan...

makasih mbak titi

Tira Soekardi mengatakan...

amin mas angki

Tira Soekardi mengatakan...

kang nurul semua bermula dari keluarga , bila di keuarga sudah dibekali dg baik , akan baik juga

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak nathalia, beliau diam2 selalu memperhatikan aku pdhl aku cuek sama beliau

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak sie thi

Prima Hapsari mengatakan...

Seneng ya mbak, bisa ketemu suster kesayangan apalagi setelah 25 tahun. Semoga suster Trisnawati selalu sehat dan bisa melayani umat.

Irly - mengatakan...

Wah.. setelah sekian lama.. haru bacanya..

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak hapsari , malah masih dikenal seneng banget

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak irly

Nchie Hanie mengatakan...

Wah suster itu di Bandung ya Mah, hihii jadi pengen kenalan kapan2. Kisahnya mengharukan banget.

Tira Soekardi mengatakan...

mbak Hanni e, beliau masih cantik di usianya yang lansia, beliau orang menado

Menemukan Jati Diri Di Atas Mesin Pencari mengatakan...

kisahnya menarik mba, ya kalau kisa masa lalu memang kadang bikin kita selalu teringat karena punya kenangan tersendiri yang bisa menjadi inspirasi kedepannya, salam kenal mba

imelda mengatakan...

mbak sukses untuk lombanya ya. Tadinya pengeeen banget ikutan lomba ini, apa daya dirikuh engga main instagram. Padahal salah satu syarat kan mesti punya akun instagram. Hehe...salam kenal ya mbak, mudah2an menang :)

Tira Soekardi mengatakan...

menemukan jati diri dia atas mesin pencari, iya

Tira Soekardi mengatakan...

salam kenal kembali mbak imelda

Beby Rischka mengatakan...

Wah keren banget Mbak, bisa keluar gitu lewat lubang angin. Kalok aku mah pasti mentok. Gembul sik. Huahahah :D

a.e.zen mengatakan...

wah susternya baik banget ya, perhatian
tapi kok ga ada fotonya, hhehe

sukses GA nya

Diah Woro Susanti mengatakan...

setuju dengan nilai2 yang mengajarkan kejujuran pada anak. caranya adalah dengan menjadi role modelnya juga ya mbak :)

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak beby, dulu sih masih imut2 jadi bisa keluar

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak a.e zen aku cari fotonya gak ada padahal aku punya dokumentasi saat aku memberikan bukuku, entah dimana itu foto

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak diah

Lia Lathifa mengatakan...

jadi ngebanyangin lubang anginnya, hihi.. bisa muat.
Salut dgn susternya mbak msh mengenali ya, eh tapi katanya anak bandel justru yg sering dikenang dibanding anak yg manis-manis dulunya :D

Irawati Hamid mengatakan...

ahh, saya pun berkaca-kaca dibuatnya Mba, dibalik sifatnya yang tegas ternyata tersimpan cinta dan kebanggaan yang sangat besar buat Mba Tira :)

semoga suster-nya sehat selalu yah Mba dan terimakasih sudah berpartisipasi di GA saya :*

Cumilebay MazToro mengatakan...

Kamu ternyata badung yaaa, suka kabur ke UKS hahaha jadi inget kalo males upacara suka pura2 sakit biar duduk2 di Uks

Tira Soekardi mengatakan...

mungkin mbak lia karena aku anak yang suka caper jadi diinget selalu

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak irawati enath mengapa beliau selalu memperhatikan sepak terjangku

Tira Soekardi mengatakan...

wah maz toro juag suka ke uks ya

lianny hendrawati mengatakan...

Aaaah jadi inget dengan suster2 saat SD dan SMP dulu. Hebat ya susternya Mama Fira, masih ingat padahal sudah berlalu lama sekali kan.

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak lianny saking istimewanya aku yang suka bikin ulah

Nita Lana Faera mengatakan...

Haha nakal amat ya mba, keluar lewat lubang angin. Langsing amat 😀 Susternya hebat ya, sekarang ngajar di panti ☺

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak nita, dulu kurus sekali sekarang mah sdh montok

Posting Komentar