Jumat, 08 November 2013

Ondel-ondel Betawi Masa Kini



Kebetulan saat menunggu kereta ke Cirebon yang masih lama, aku berjalan-jalan di lapangan Monas dan bertemu dengan ondel-ondel. Akhirnya aku memutuskan foto bersama dengan ondel-ondel dan memberikan uang pada keropak yang dibawanya. Seingatku ondel-ondel adalah salah satu bentuk kesenian dari Betawi .

Sejarahnya ondel-ondel ini sudah ada sebelum Islam tersebar di pulau Jawa.. Dulu sekali ondel-ondel ini digunakan sebagai penolak bala yang berfungsi untuk mengusir roh-roh halus yang mengganggu manusia. Makanya bisa dilihat wajah dari ondel-ondel yang menyeramkan.. Seiring dengan waktu akhirnya ondel-ondel ini digunakan sebagai sarana hiburan rakyat. Biasanya dipertontonkan pada acara hajatan orang Betawi, meramaikan pesta rakyat atau acara penyambutan tamu-tamu negara.

Ondel-ondel ini salah satu bentuk kesenian ynag termasuk teater tanpa tutur, karena dulunya berfungsi sebagai personifikasi leluhur sebagai pelindung.Sedang musik pengiringnya tergantung dari rombongannya. Ada yang diiringi dengan tanjidor, pencak silat Betawi, juga bisa  diiringi dengan bende, ningnong dan rebana ketimpring.

Bentuk ondel-ondel berupa boneka besar yang tingginya mencapai 2,5 meter dengan garis tengah 80 cm . Dibuat dari anyaman bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dipanggul. Bagian mukanya berbentuk topeng dengan rambut terbuat dari ijuk. Untuk warna, ondel laki-laki diberi warna merah wajahnya sedangkan yang perempuan warna putih.

Keberadaan ondel-ondel ini kurang diminati saat ini , sehingga hanya terlihat di acara pesta rakyat atau menyambut tamu yang jumlahnya sangat sedikit. Ironisnya seperti yang terlihat di lapangan Monas, hanya digunakan sebagai sarana meminta uang dengan berfoto dengan ondel-ondel.  Alangkah baiknya kalaupun dipakai sarana untuk mendapatkan uang esensi dari kesenian ondel-ondel masih ditonjolkan. Artinya lengkap dengan alat musik pengiringnya dan disajikan dengan apik sehingga seninya akan muncul.

2 komentar:

endra yuda mengatakan...

artikel yang menarik :) visit juga www.feelinbali.blogspot.com yah,, di tunggu komentar dan juga masukannya :D makasi

Tira Soekardi mengatakan...

mudah2an kesenian tradisional tdk punah dimakan jaman, salam kenal

Posting Komentar