Senin, 21 April 2014

Keindahan Waduk Darma




Foto Bersama , sebetulnya kalau cuaca cerah di belakang tampak Gunung Ciremai




Untuk kelas 3 IPA ujian praktikum kimia diadakan di laboratorium susu di Cigugur Kuningan. Kebetulan sekali saya kenal dengan pemilik laboratorium susu tersebut. Mengapa saya mengadakan ujian praktek kimia di luar sekolah dengan tujuan agar siswa tahu bahwa ilmu kimia mempunyai peran juga dalam peternakan sapi perah untuk menguji kadar lemak dan protein susu sapi. Nah, agar mereka setelah ujian tidak stres makanya saya beri obat anti galau buat mereka yaitu mengunjungi waduk Darma yang tidak terlalu jauh dari laboratorium susu hanya setengah jam perjalanan.

Waduk Darma sendiri terletak di sebelah barat daya kota Kuningan tepatnya di kecamatan Darma. Di sebelah utaranya tampak terlihat gunung Ciremai yang berdiri kokoh . Menurut cerita waduk Darma ini sudah ada dari dulu tapi dulu hanya berupa situ/danau kecil, dan di tengah-tengahnya terdapat mata air Cihanyir .Menurut legendanya waduk ini dibuat oleh mbah Satori dan air yang dipakai berasal dari mata air Cihanyir dan dari hulu sungai Cisanggarung. Mbah Satori ini membuat waduk ini untuk tempat bermain putranya Pangeran Gencay dan untuk memelihara ikan.


 Pemandangan waduk Darma, sayang banyak kabut sehingga kurang jelas 

Pada waktu akan membuat waduk  dia memerlukan pekerja yang banyak sehingga membutuhkan konsumsi yang banyak pula, sehingga ada tempat untuk menanak nasi di suatu bukit dekat desa Darma yaitu desa Kawah Manuk dan dikenal dengan bukit Pangliwetan.Dan sampai sekarang tempat menanak nasi masih ada berupa onggokan tanah yang berupa congcot (nasi tumpeng) dan tak pernah hilang walau dirusak manusia sekalipun akan tetap ada dalam bentuk onggokan.

Setelah selesai membuat waduk mbah Satori membuat perahu yang besar dengan ukuran 20x7 meter yang digunakan bermain oleh Pangeran Gencay yang diiringi  gamelan yang dimainkan oleh penduduk sekitar  dan tempat penduduk memainkan gamelannya dikenal dengan nama Muncul Goong. Tapi saat bulan purnama perahu yang dinaiki oleh pangeran Gencay tenggelam/ karam. Akibat kedukaan yang mendalam mbah Satori  menyuruh waduk tersebut dibobol agar tidak membahayakan anak cucu. Akhirnya jenasah pangeran Gencay ditemukan di suatu tempat yang diberi nama Muncul Bangke (Munjul =tempat yang menonjol, bangke=bangkai) yang akhirnya dimakamkan di desa Jagara. Sedangkan tempat tenggelamnya pangeran Gencay dikenal dengan Labuhan Bulan karena perahunya tenggelam saat bulan purnama.


Di atas perahu




Nah, saat pemerintahan Belanda tanah yang akan dijadikan waduk ini dibayar tunai dengan membayar tanah rakyat, tapi proyek ini dihentikan keburu tentara Jepang masuk  dan tahun 1954 oleh presiden Soekarno dilanjutkan pembangunan waduk Darmanya .Waduk Darma ini berguna untuk menampung air untuk irigasi dan perikanan dan bisa digunakan untuk olahraga dan rekreasi. Memang masuk ke waduk Darma membayar tiket masuk yang relatif murah Rp 8500 perorang. Kebetulan waktu saya kesana cuaca agak mendung sehingga gunung Ciremai banyak tertutup kabut, padahal katanya justru keindahan akan terpancar saat gunung Ciremai tampak. Sebelum berjalan-jalan di sana , saya memutuskan untuk makan siang dulu, kebetulan anak-anak saya suruh membawa bekal dari rumah untuk mengirit ongkos dan tak perlu gelar tikar karena di sana  ada beberapa gazebo yang terbuat dari kayu.


Tambak ikan milik penduduk setempat



Waktu makan saya ditawari untuk naik perahu mengelilingi waduk Darma, nah saya sempat berpikir dulu karena kebetulan saya suka takut kalau naik perahu. Walaupun tidak ada ombaknya dan kelihatan tenang , tapi menurut cerita pangeran Gencay saja memakai  perahu yang besar saja bisa tenggelam apalagi ini perahunya kecil. Telinga saya mulai berdenging melihat anak-anak mulai menyuruhku untuk mengiayakan saja. “ Ayo, ibu, ayo ibu, naik bu,” teriak mereka. Akhirnya setelah tawar menawar satu perahu dinaiki dua belas orang dihargai Rp 120.000,- Eh, ternyata ada muridku cowok lagi yang ternyata juga takut, memang ini anak agak penakutan, berarti saya punya teman. Saat mengelilingi perahu cuaca agak gerimis dan melewati beberapa tambak ikan milik penduduk setempat, ada pulau kecil di tengah waduk.Dari kejauhan tampak samar-samar gunung Ciremai. Memang mengasikan juga mengelilingi waduk dan di beberapa tempat tampak orang yang sedang memancing ikan. Dan anak-anak nyeletuk, wah asik nih yang lain pada belajar di kelas, kita jalan-jalan.


 Pulau yang berada di tengah waduk

Waktu sudah turun dari perahu, ada tukang foto yang menawarkan jasanya untuk membidik kami semua dengan latar belakang gunung Ciremai, melihat contohnya sih bagus, tapi berhubung cuaca mendung jadi banyak kabut yang menutupi gunung Ciremai sehinga hasilnya kurang bagus. Di sana juga ada panggung yang kadang ada pertunujuka kesenian kalau ada acara-acara tertentu dan juga ada tempat bermain anak-anak. Menurut siswa-siwaku mereka juga masih anak-anak dan mereka boleh bemain ayunan. Memang pemandangan dengan latar belakang gunung dengan udara yang sejuk tempat ini cocok untuk refreshing  menghilangkan kepenatan. Mulai deh ini tangan sudah ingin melukiskan keindahan alam dengan gunung sebagai latar yang eksotis dalam angkaian kata yang puitis.  Gak menyesal datang ke sana mendapatkan kesejukan udara yang berbeda dengan di Cirebon yang panas ditambah dengan pemandangan alami.

8 komentar:

Nia Haryanto mengatakan...

Wah... seru ya... TFS, Mak. :)

HM Zwan mengatakan...

Wah baru tahu saya mbk ada pulau dtgh danau ;)

Hilda Ikka mengatakan...

Seru Mak.. sejarahnya juga bagus. :)

Ika Hardiyan Aksari mengatakan...

Sayang sekali karena mendung jadi fotonya nggak bisa ciamikkk :D

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak Ika, cuaca berkabut menutupi keindahan, dan gunung Ciremainya juga tak tampak, hiks

Tira Soekardi mengatakan...

betul mbak Hilda, sy juga malah baru tahu ada sejarahnya , yg saya tahu namanya waduk ya, sungai yg dibendung. Salam

Tira Soekardi mengatakan...

mbak Nia, seru sekali krn anak-anak senang gak belajar dan mereka sejak pagi sdh ngiri-ngiri kelas lain , he, he

Tira Soekardi mengatakan...

mbak Zwan ,saya juga gak tahu kenapa ada pulau di tengah danau, apa seperti pulau samosir di danau toba ya???

Posting Komentar