Jumat, 11 April 2014



Semenjak kecil saya selalu berpetualangan melakukan perjalanan dengan mama dan adik-adikku setiap liburan tiba dan itu sangat menyenangkan dan membuat kesan tersendiri.  Berpetualangan berlanjut bersama-sama teman-teamn sekolah dan kuliah dan ini punya sensasi yang berbeda. Sekarang setelah berkeluarga ternyata perjalanan dengan keluarga itu yang paling menyenangkan. Berpetualangan dengan teman kerja atau teman yang lain tidak seindah dengan keluarga. Perjalanan dengan keluarga itu menjadikan kebersamaan semakin erat dan semakin membuat kami lebih saling mencintai satu sama lain. Apalagi sekarang kedua anak saya kuliah di luar kota sehingga momen melakukan perjalanan bersama itu menjadi momen yang paling membahagiakan.

Salah satu perjalanan yang tak pernah saya lupakan adalah waktu berlibur ke Pangandaran bersama keluarga yaitu mengelilingi cagar alam. Itu perjalanan yang sebetulnya tidak ada dalam daftar yang harus saya kunjungi, tapi siang itu ada pria yang menawari naik perahu mengelilingi cagar alam dengan harga murah. Kebetulan sebelumnya saya sudah pernah naik perahu ke cagar alam itu hanya memakan wakltu 5 menitan, tapi ini katanya mengelilingi hanya Rp 400.000 sudah termasuk ongkos masuk cagar alam dan melihat aneka pemandangan sepanjang perjalanan. Tanpa pikir panjang saya iyakan saja , karena saya pikir seperti yang saya dulu.

Sepuluh menit perjalanan masih tenang , kami masih tertaw-tawa apalagi kalau wajahnya kecipratan air tapi menjelang lima belas menit kemudian ternyata kami dibawa ke laut lepas, saya mulai cemas saat ombak menerjang dan mengangkat perahu dan tiba-tiba dihempaskan ke bawah, saya menjerit keras-keras.
            “Bu, tenang ya, gak apa-apa ini tinggi ombaknya hanya 2 sampai 3 meter, kalau lagi cuaca buruk sih bisa sampai 3-5 meter,” kata pemandunya Kami saling pandang dan ternganga, apalagi perahunya bukan perahu besar tapi kecil. Perut saya  mulai terasa mual dan kepala mulai pusing sehingga apa yang diterangkan pemandu tak banyak tertangkap oleh otakku dan adrenalin kami semakin meningkat. Kembali rasa cemas semakin memuncak karena kok perjalanan tidak sampai-sampai, waktu saya tanyakan waktu mengelilingi cagar alam ini sekitar sejam. Halaaah!!!! Saya terkaget-kaget lama sekali, dan tiba-tiba perahu terangkat kembali dan dihempaskan ke bawah, dan serentak kami menjerit, hahhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!




Mau senyum tapi jadi mesem saking takutnya
 
Sebetulnya pemadangan yang kami lewati cukup bagus tapi berhubung tegang sehingga detailnya kurang diperhatikan dan penjelasan pemandu seperti lewat saja dari telinga, sehingga harus saya tanya bolak balik. Kami melewati dinding terjal yang ada di bibir pantai yang tampak eksotis, tapi karena perahu yang terombang-ambing kami sulit sekali mengambil foto berkali-kali foto yang diambil buram. Kami melewati batu-batuan yang diberi nama sesuai dengan bentuknya, seperti batu kodok karena berbentuk kodok, batu kingkong karena berbentuk kingkong, batu buaya karena seperti buaya. Tapi yang paling menarik adalah batu layar yang berdiri tegak . Pemandunya mengarahkan ke arah batu layar dan harus melewati bebatuan, dan disuruhnya duduk diujung perahu agar bisa difoto dengan latar belakang batu layar, tapi karena saya takut untuk bergerak ke ujung perahu sehingga hanya anak laki-lakiku dan suamiku.

 Batu kodok menyerupai kodok


Karang Bolong tempat sarang walet dan kelelawar



 Batu Kingkong, dari jauh memang kelihatan seperti kingkong tapi setelah didekati seperti ini kok tidak nampak seperti kongkong

Satu lagi yang aneh yaitu batu yang berdiri tegak seperti orang katanya sih seperti cerita maling kundang. Ketika terlihat dari kejauhan batu itu terlihat tegak berdiri tapi ketika berada tepat di depan batu itu batunya tidak kelihatan tapi setelah menjauh kembali terlihat tegak lagi. Aneh sekali. Setelah itu kami melewati karang bolong yang banyak terdapat kelelawar yang baru keluar saat malam hari, juga terdapat sarang burung walet yang dikelola oleh pemda setempat. Setelah itu terlihat air terjun yang pada saat kemarau tidak tampak   airnya cuma terlihat batas aliran air di dinding tebing, kebetulan waktu itu musim kemarau sehingga tidak nampak airnya. Tak lama kemudian kami sampai dekat dimana penduduk setempat mengambil rebon untuk membuat terasi yang berjajar panjang di sebelah timur cagar alam berupa tongak-tonggak kayu yang berjajar berbentuk segiempat dan diatasnya terdapat rumah kecil dan di bawahnya terdapat jaring untuk mengambil rebon. Menurut pemandu jalur laut lepas yang kami lewati sering digunakan oleh imigran Afghanistan kabur ke Australia.




 Tempat penduduk setempat menjaring rebon di laut

Akhirnya setelah sejam perjalanan sampai juga di sisi timur cagar alam yang disambut dengan monyet-monyet yang tinggal di hutan lindung . Waktu turun dari perahu rasanya lututku gemetar tapi rasanya lega banget!!!!!! Pengalaman yang tak terlupakan walau adrenalin meningkat drastis dan terombang-ambing di lautan, dan saya tak membayangkan para nelayan yang harus berjuang menangkap ikan dengan ombak yang begitu tinggi yang katanya lebih tinggi daripada yang kaami lewati. Astaga........kok ya berani-beraninya ngikutin saran pemandunya...... kalau disuruh mengulang lagi mengelilingi cagar alam lagi , saya pasti jawabnya ....NO WAY!!!!!!!





8 komentar:

momtraveler mengatakan...

Huuaaaa...seruuu...ngeri ngeri sedap ya mak,kebayang deg degannya ;)
Makasih ya mak sudah ikutan GA ku :)

Irowati mengatakan...

Wah mendebarkan ya mak Tira....untung gak mabuk laut sj ya cm lutut yg klotak-klotak....hihihi...Selamat GA-nya Mak...

Miss Fenny mengatakan...

bayanginnya dah mules maaak terombang ambing ombak tapi fenny jadi penasaraaaaan

Indra Kusuma Sejati mengatakan...

Perjalanan petualangan yang mengasyikan nih Mba, jadi pengin ikut petualangannya :D

Salam

Hidayah Sulistiyowati mengatakan...

Hahaha...jadi inget cerita emakku yang santai dan tertawa senang saat perahunya diombang-ambingkan ombak, padahal temen-temennya yang lebih muda pada jejeritan. Sure..ketawa ngakak mak :)

Tira Soekardi mengatakan...

ayuk mas Indra dicoba, ktnya lagi selain Green Canyon ada tempat lg yg seru, jadi bisa banyak yg dlihat.

Tira Soekardi mengatakan...

wah mbak Hidayah, hebats kali emaknya, salut deh

Tira Soekardi mengatakan...

mari mak Muna, mak Fenny dan mak Irowati dikunjungi dan dicoba sensasinya

Posting Komentar