Kamis, 31 Desember 2015

Kelenteng Dewi Welas Asih Yang Ditinggalkan





Kelenteng  Dewi Welas Asih ini terletak di kampung Kamiran atau Pacinan yang ada di kelurahan Panjunan Kecamatan Lemah Wungkuk Kota Cirebon. Menurut cerita dulunya kelenteng ini bernama Tiau Kak Sie. Sie mempunyai arti rumah tempat orang beribadat sedangkan Tio artinya air pasang naik. Dan Kak mempunyai arti bangun dari tidur atau membangunkan atau membawa kepada akal yang benar. Dari penggalan nama tadi kelenteng mempunyai dua arti . Pertama kelenteng dibangun oleh air pasang dan yang kedua kelenteng tempat akal bertumbuh.

Bangunan kelenteng ini seluas 1600 meter persegi dengan luas lahan seluruhnya 1857 meter persegi. Bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama halaman pertama yang dibatasi oleh pagar dan gapura. Halaman kedua terdapat bangunan Pat Kwa Ceng yaitu tempat peristirahatan, tempat peribadatan agama Budha yang dikenal dengan sebutan Cetya Dharma Rakhita. Disana terdapat dua tempat pembakaran kertas dan dua singa di halaman depannya. Bagian kedua adalah bagian bangunan utamanya. Terdiri dari serambi dan ruang utama.  Ruang utama terdiri dari ruang bagian depan,tengah dan terakhir ruang suci utama.Dinding –dinding di sebelah kiri dan kanan di ruang utama berupa keramik warna merah bata dengan gambar-gambar yang menceritakan tentang bakti anak pada orangtuanya, pengadilan dan penyiksaan terhadap orang-orang berdosa. Tiang pendukung atap ada empat buah yang berbetuk segi empat. Warnanya merah dengan papan yang dituliskan huruf Cina. Sedangkan plafon terbuat dari kayu dan atapnya dari genteng berbentuk pelana. Genteng berbentuk pelana tersebut dihiasi dengan bunga, burung dan dedaunan. Pada ruang depan terdapat altar Dewi Tie Kong, tempat abu, tempat lilin .Juga tergantung dua lonceng dan satu bedug.Pada ruangan tengah ada juga altar untuk Dewa Hok tek Ceng Sing /Dewa bumi, altar untuk Dewa Seng Hong Yah/Dewa akhirat, tempat abu, pembakaran kertas dan dua gentong abu.

Bagian ketiga adalah bangunan sayap. Bangunan sayap terdiri dari bangunan sayap belakang yang ada tempat air untuk bersuci, gudang, perpustakaan, altar Han Thian Siang Tie/Dewa langit, altar Tjin Fu Su dan kantor sekretariat. Bagian sayap barat ruang untuk belajar agama Budha. Di sini punya  pintu, di depan (selatan) adalah pintu yang berada di samping barat bangunan utama. Kelenteng atau Vihara Dewi Welas Asih katanya dulu tempat untuk belajar ilmu. Dan diperkirakan dibangun sekitar tahun 1595. Dan sekarang dikelola olah yayasan Tunas Dharama.  Sebetulnya vihara ini salah satu cagar budaya yang harus dilestarikan. Banyak sejarah yang ditinggalkan dari pembangunan vihara ini. Banyak cerita yang bisa diambil manfaatnya.Tapi kelenteng ini kesannya ditinggalkan begitu saja, padahal bisa menjadi tempat tujuan wisata seperti di kelenteng di kota-kota lainnya. Perlu perhatian dari pemerintah setempat untuk menjadikan kelenteng sebagai bagian sejarah dari kota Cirebon


34 komentar:

i Jeverson mengatakan...

dic irebon emang ada beberapa klenteng yang lumayan bernama.. walaupun jumlahnya nggak sebanyak kayak di jakarta. itu yang di banten ada yang lebih terkenal lagi tapi

Tira Soekardi mengatakan...

iya mas Jeverson hanay yg dewi welas asih ini yang punya sejarah banyak, makanya bisa jadi destinasi wisata sejarah

wuri nugraeni mengatakan...

Wah, jadi penasaran. Tapi kapan ya aku bisa ke Cirebon lagi? hehe

Anisa Ae mengatakan...

Foto klentengnya kurang banyak, Mbak. :D

Tira Soekardi mengatakan...

yuk mbak Wuri kuliner kota Cirebon enak loh

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak Anisa, di sana hanya dijelaskan sama orang yg bekreja di sana dan hanya boleh difoto bagian luar saja krn takut ganggu yg beribadah. Jadi sangat terbatas fotonya

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Aku sejak kecil udah dekat banget dg klenteng krn tinggal di daerah pecinan, mbak. Jadi malah gak kepikiran wisata di kelenteng. Kalo ke Cirebon boleh nih mampir kesini, udah lama juga gak kesana. Dulu punya saudara tinggal di sana, jadi sering dolan :)

Obat miom mengatakan...

jadi penasaran

Ophi Ziadah mengatakan...

sepakat mah tira...banyak bangunan yg memiliki arti sejarah dan cagar budaya yg blom maksimal diperhatikan oleh pemda Cirebon.
yang paling jelas contohnya keraton kanoman..miris lihatnya

Gustyanita Pratiwi mengatakan...

aku klo ngeliat kelenteng, reflek pingin pota poto...suka ama bangunan yang merah merah

mampir ke sini jadi banyak tahu ilmu dewa deewi

mr aneh mengatakan...

Gua gak pernah kesana.

Pipit Widya mengatakan...

Bangunan bersejarah di Indonesia byk ceritanya dan sayangnya krg terawat.
Btw sy selalu suka wrn cerah kelenteng.

Aireni Biroe mengatakan...

Iya, mbak..cagar budaya bisa menjadi objek wisata lhho seandainya mau diseriusin sama pemerintah setempat

Tira Soekardi mengatakan...

wah asyik mbak Hidayah, aku paling suka lihat kelenteng dari segi warna, bentuk bangunan dan hiasannya

Tira Soekardi mengatakan...

obat miom, datang deh ke cirebon

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak Ophi, aku mah suak sebel nih dg walikota Cirebon dari tahun ke tahun gak pernah merubah semua kekayaaan pariwisatanya, cuek banget. Yang ada kumuh saja

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak Pratiwi, eksotis bangunan kelenteng itu

Tira Soekardi mengatakan...

makany mampir ke cirebon, mr aneh

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak Pipit , gemes aku juga

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak Aireni, betul tapi pemerintah belum terbuka untuk hal itu atau memang cuek

Blogs of Hariyanto mengatakan...

dibangun sejak tahun 1959, dan hingga sekarang masih awet dengan arsitekyutnya yang unik dengan ciri khas etniknya yang antik....wow itu kereeennn
maaf baru bisa mampir ke blog super keren ini...
keep happy blogging always...salam dari makassar-banjarbaru :-)

Alris mengatakan...

Wah klentengnya cakep. Ini perlu woro-woroin biar makin banyak yang datang sebagai turis.
Walikota Cirebon gak ngeh barangkali soal pariwisata, hahaha...

Irawati Hamid mengatakan...

bangunannya cantik, bisa menjadi potensi pariwisata daerah bila perhatikan dengan baik :)

evrinasp mengatakan...

baru tau aku di cirebon ada klenteng, tapi memang belum ngubek2 cirebon banget waktu tinggal di sana

Tira Soekardi mengatakan...

iya Mas Haryanto, bangunannya nyempil di antara gedung2 yg lain , jadi banyak yg kurang mengenal

Tira Soekardi mengatakan...

Alris bukan gak tahu walikotanya , cuek yg dipikirin sih bagaimana duit masuk ke kantongnya

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak Irawati , aku suka kelenteng kn unik , warnya dan hiasannya

Tira Soekardi mengatakan...

iya mbak Evrina, nyempil diantara gedung tinggi dan pelabuhan

(sulis) bunda raka-alya mengatakan...

Klo di sini klenteng yang ramai yang di pusat2 kegiatab ekonomi mbak...yang deket pecinan...soalnya yang ke klenteng rata2 etnis tionghoa

Widya Herma mengatakan...

Seru juga ya mbak berkunjung ke klenteng. Ingin juga nyobain kesana. Bener - bener menarik :D

Tira Soekardi mengatakan...

nah ini bunda Raka adanya kejepit gedung tinggi dan pelabuhan shg banyak org yang tak tahu. Dulunya terlihat krn gak ada bangunan tinggi. Malah ada tulisan yg menyatakan kalau dr kelenteng bisa melihat gunung ciremai , sekarang gak krn tertutup bangunan

Tira Soekardi mengatakan...

mbak Widya kelenteng itu selalu menarik hiasannya, warnanya dan tulisannya

turiscantik.com mengatakan...

Kalau ke cirebon musti mampir neh

Tira Soekardi mengatakan...

turis cantik, yuk berkunjung ke cirebon sambil wisata kuliner

Posting Komentar