Minggu, 28 Mei 2023

 


Kali ini anak-anak membuat kastil dari kertas jeruk. Biasanya kastil atau istana ditempati oleh para raja-raja dengan segala tentara dan pembantu-pembantunya. Biasanya dikelilingi oleh benteng yang tinggi dan tebal. Kastil ini dikreasikan anak-anak sedemikan rupa bukan sebagai istana saja tapi berdasarkan imajinasi anak-anak. Anak-anak harus berimajinasi tentang kastil yang mereka buat dan mereka harus membuat ceritanya . Apa yang terjadi dalam kastil yang mereka buat.

 


Bahan yang dibutuhkan

Kertas jeruk

Gunting

Pinsil warna/spidol

 


Cara membuatnya

  • 1.      Kertas jeruk dilipat menjadi dua dilipat lagi menjadi dua sehingga terdapat  6 bagian lipatan.

  • 2.      Dua lipatan bagian tengah dijadikan satu

  • 3.      Dua lipatan sebelah kiri dan kanan dilipat dan ditekan sehingga jelas garis hasil lipatan yang membagi kertasnya.

  • 4.      Bagian paling sebelah kiri, dua bagian di tengah dan bagian yang paling kanan diberi atap. Tapi sebelumnya bagian sebelah kiri dan kanan dari bagian tengah atasnya dipotong sepertiga bagian sehingga lebih rendah dari dua bagian di tengahnya.

  • 5.      Baru setelahnya anak-anak menggambar apa saja yang terjadi di dalam kastil tersebut dan diberi warna agar menarik.


 

Anak-anak menggambar kastil sesuai apa yang dijelaskan dan mewarnai dengan warna yang cerah. Kemudian anak-anak membuat cerita fiksi tentang kastil yang mereka buat, karena mereka membuat kastil dengan apa yang ada dalam kastil sesuai cerita fiksi yang mereka buat. Kemudian anak-anak satu persatu maju ke depan sambil membawa gambarnya bercerita tentang cerita fiksi yang mereka buat. Dari kegiatan ini salah satu manfaat yang bisa diambil adalah membuat cerita fiksi. Hal ini karena dengan membuat cerita fiksi punya manfaat

  • 1.      Merangsang imajinasi dan kreativitas. Saat menuliskan cerita anak-anak akan berimajinasi dan menyajikan dalam bentuk gambar, tulisan atau dongeng.

  • 2.      Mengasah kemampuan berpikir kreatif , luas dan kritis

  • 3.      Meningkatkan pengembangan bahasa dan komunikasi. Dengan membuat cerita anak terasah membuat kalimat yang baik dengan kosa kata yang ada.

  • 4.      Meningkatkan rasa percaya diri anak. Dengan bercerita anak-anak dirangsang untuk percaya diri.

 


Ternyata manfaat anak membuat cerita fiksi banyak ya buat perkembangan anak . Jadi gak salah loh kalau sekolah atau para ibu membuat kegiatan dimana anak-anak diharapkan membuat cerita sendiri dari gambar yang mereka buat. Dengan demikian anak-anak dilatih sejak dini untuk bercerita. Mampu menyusun kalimat dengan kosa kata yang ada dengan demikian perbendaharaan kata semakin banyak.

 


Kegiatan ini memang banyak manfaatnya selain kemampuan menulis kalimat dan cerita meningkat, anak-anak juga kemampuan motorik halusnya menjadi lebih baik, kreativitas, percaya diri dan kemampuan berbicara di depan semakin baik. Jadi kegiatan kali ini kegiatan yang menyenangkan dan banyak manfaat yang didapat anak-anak tentunya

 


 

 

 

Minggu, 14 Mei 2023


  Gambar dari sini

Jadi waktu jalan-jalan di sebuah mall di kota Cirebon kebetulan melihat orang yang jualan mie celor. Akhirnya mampir dan merasakan mie celor. Baru pertama kali mencoba kuliner asal Palembang ini. Saat dirasakan kok mirip banget rasanya dengan mie Belitung yang pernah merasakan saat jalan-jalan ke Belitung. Mungkin saja karena letak Palembang dengan Belitung berdekatan bisa jadi ada kesamaan dalam hal kulinerannya.

 

Jadi mie celor ini makanan khas kota Palembang. Celor ini dalam bahasa Palembang mempunyai artinya diremdam dalam air panas . Hal ini karena mie celor dalam penyajiannya dengan cara dicelor/diseduh air panas yang kemudian dicampur dengan kuah santan dan kaldu udang yang kental dan gurih. Dan dilengkapai dengan pelengkap seperti telur rebus, toge dan kucai. Ukuran mienya juga lebih besar daripada mie umumnya. Penyajian dari mie celor , mienya diseduh sebentar baru diguyur dengan kuah yang kental yang mirip dengan lohmie dari Tiongkok. Kuahnya dibuat dari kaldu udang atau ebi yang dicampur dengan santan, susu, tepung terigu dan bumbu lainnya. Kemudian ditambahkan pelengkap telur rebus, kucai, toge , ayam dan udang bisa ditambahkan.

 

Asal usul mie celor ini belum diketahui dengan pasti tapi seperti yang kita tahu mie itu berasal dari Tiongkok. Bisa jadi mie celor ini adalah perpaduan antara makanan Tionghoa dan Melayu. Pada umumnya masarakat kota Palembang makan mie celor pagi hari sebagai sarapan. Kandungan gizinya juga cukup baik karena ada karbohidrat dari mie, protein dari udang dan ayam, vitamin dan mineral dari sayurannya.

 

Kembali lagi saat makan mie celor di mall. Benar sekali terasa sekali udang di kuahnya. Sangat gurih dengan mie yang besar. Dan rasanya juga hampir sama dengan mie Belitung.

Nah, bagi yang mau membuat mie celor sendiri ini ada sedikit resep yang bisa dicoba

Bahan-bahan


Mie kuning - 200 gram


Udang beserta kulitnya - 200 gram


Santan - 300 ml


Air - 700 ml


Tepung maizena, larutkan - 2 sdm


Daun jeruk - 2 lembar


Air jeruk nipis - 1 sdm


Gula - secukupnya


Garam - secukupnya


Kaldu bubuk - secukupnya

 

Bahan Halus

Bawang putih - 3 siung

Bawang merah - 5 butir

Kemiri sangrai - 2 butir

Lada - 1/2 sdt

Ebi kering - 1/2 sdm

Cabe merah keriting - 2 buah

 

Pelengkap

Telur rebus - 4 butir

Daun bawang - secukupnya

Bawang merah goreng - secukupnya



 

Cara Membuatnya

1. Rebus mie kuning hingga empuk, angkat, lalu tiriskan.

2. Cuci bersih udang. Rebus udang bersama dengan kulit dan kepalanya hingga mendidih dan udang matang. Matikan api, tiriskan udang, dan sisihkan air rebusan udang. Bersihkan udang dari kulit dan kepalanya.

 

3. Tumis bumbu halus dan daun jeruk hingga harum. Setelah bumbu matang, masukkan air rebusan udang dan santan.

4. Bumbui kuah dengan gula, garam, dan kaldu bubuk secukupnya. Tambahkan air jeruk nipis dan larutan maizena. Masak hingga kuah sedikit mengental lalu matikan api.

5. Siapkan mangkuk, tata mie kuning ke dalam mangkuk lalu tuangkan kuah. Sajikan bersama bahan pelengkapnya.

 

Silahkan mencoba

 

Minggu, 07 Mei 2023

Candra Naya Di Antara Gedung Tinggi

 


Ada yang unik di jalan Gajah Mada Jakarta, rumah bergaya oriental yang berada di antara dua gedung tinggi. Rumah bergaya oriental ini tampak kecil di antara dua gedung tinggi tapi kekhasannya unik dan begitu menawan . Ternyata rumah unik ini adalah rumah bersejarah makanya rumah ini dipertahankan sampai sekarang baik gedungnya maupun keasliannya. Rumah ini dikenal dengan nama Candra Naya. Dulunya bekas rumah tinggal dari Mayor keturunan Tionghoa untuk mewakili etnisnya saat jaman Belanda. Mayor itu bernama  Khouw Kim An. Jadi Khouw Kim An ini termasuk yang kariernya sangat cemerlang.  Tahun 1905 diangkat menjadi leutenant dan tahun 1908 diangkat menjadi kapitant dan tahun  1910 diangkat lagi menjadi mayor. Beliau ini kaya raya karena merupakan pengusaha , memiliki toko beras, punya bank.  Memiliki 14 istri dengan 24 orang anak. Candra Naya kini hanya tinggal 1/3 luas rumah Khouw Kim An yang sebenarnya. Saat Jepang masuk Indonesia Khouw ditahan Jepang di kamp dan meninggal di sana. Jenasahnya dimakamkan di makam Petamburan. Rumah ini tidak terawat awalnya dan mau dibeli pengembang dan rumah ini akan dipindahkan ke Taman Mini , tapi banyak warga yang protes karena Candra Naya ini bukan sekedar bangunan tua tapi memiliki sejarah. Merekam jejak sejarah etnis Tionghoa di negara Indonesia. Makanya gedung ini dibiarkan berada di antara gedung tinggi ini.

 


 


Dulunya selain menjadi tempat tinggal keluarga Khouw Kim An juga pernah menjadi kantor Sing Ming Hui yaitu perkumpulan Tionghoa yang bertujuan sosial. Perkumpulan inilah yang mencetuskan terbentuknya Universitas Tarumanegara. Juga pernah diadakan pertandingan Indonesia Open /pertandingan bulutangkis internasional pertama di Indonesia. Candra Naya ini termasuk dalam komplek PT Moderland Raealty Tbk. Candra Naya berada di bawah supervisi dinas pariwisata DKI Jakarta.

 


 


Gedung Candra Naya diapit oleh dua gardu jaga di sebelah kiri dan kanan. Dulu di bagian depan ada taman yang asri. Gedung ini terdapat beberapa ruang seperti

1 Ruang umum untuk menerima tamu dan kantor dari Khouw Kim An mulai dari teras sampai dengan ruang penerimaan tamu

2 Ruang semi pribadi hanya untuk tamu-tamu akrab. Ruang ini dipisahkan dengan ruang umum dengan sebuah halaman yang ditutup dengan genetng kaca. Setelah halaman genteng kaca ada ruangan untuk menyembah dewa dewi dengan altarnya. Di kiri dan kanan dinding altar berhubungan dengan pintu yang menuju ruang lain ke halaman utama.

3 Ruang pribadi tempat hunian keluarga ada di bagian belakang terdiri dari bangunan dua lantai yang terdiri dari kamar-kamar

4 Ruang pelayanan  terdiri dari dapur, tempat para selir dan anak-anak. Bangunan ini terdapat di sayap kanan dan kiri bangunan

5 Halaman . Kamar-kamar di Candra Naya semua menghadap halaman.


 

Yang paling istimewa dari gedung ini adalah atapnya. Atapnya melengkung bergaya Tionghoa dan kedua ujungnya terbelah menjadi dua yang dikenal dengan Yanwei (ekor walet). Atap ini juga terdapat pada kelenteng dan merupakan status sosial pemilik rumah. Pada pemisah halaman depan dan samping terdapat jendela penghubung yang dikenal dengan jendela bulan. Oranmen-ornamen yang menempel pada gedung ini adalah Ba Gua (delapan tolak bala) . Hiasan berupa jamur lingzhi pada pintu masuk utama melambangkan umur panjang dan ragam hias lainnya seperti papan catur, buku,kecapi dan gulungan lukisan dibagian atas teraas melambangkan pemiliknya seorang cendikiawan bahkan hartawan.

 


 


Selalu tertarik dengan bangunan  bergaya Tionghoa . Yang sering dilihat adalah ya kelenteng bukan rumah seperti Candra Naya ini. Tapi auranya sih mirip-mirip . Masuk akan terlihat ruang luas dengan temboknya berisi foto-foto dari Khouw Kim An dengan segala aktivitasnya. Dan di bagian tengahnya kosong dengan atasnya genteng kaca dan masuk lagi ruangan dengan dua sisi kamar utaman yang tampak kosong . Keluar ada kolam ikan yang memberikan suasana adem dan nyaman. Di samping kanan terdapat rumah sembahyang dengan altarnya. Ini rekomen banget untuk dikunjungi. Bangunan yang unik dan pesoananya bikin membayangkan keadaan jaman itu. Pelesteraian gedung ini sangatlah tepat karena merupakan bagian sejarah dari bangsa Indonesia yang multikultur

 

 

;;