Rabu, 04 Juli 2012

Wisata Mengelilingi Cagar Alam dengan Perahu


Menjelang siang di pantai Pangandaran kami ditawari untuk mengelilingi cagar alam dengan perahu. Setelah harga sudah disetujui, kami naik perahu kecil untuk wisata keliling cagar alam. Ternyata tidak terpikirkan bahwa kami harus melewati laut lepas dengan waktu tempuh kira-kira satu jam. Sesampainya di laut lepas, mulailah perahu terombang-ambing oleh ombak yang begitu besar dan ternyata tingginya antara 1,5 meter sampai 2 meter (ini baru kita tahu setelah sampai di tujuan ). Kadang-kadang perahu ada di atas ombak lalu terjatuh tiba-tiba dengan kerasnya sehingga perut mual dan kepala pusing sehingga apa yang diterangkan pemandu kami sudah tidak diperhatikan lagi, apalagi adrenalin kami semakin meningkat. Rasa taut dan cemas mulai menghampiri kami karena perjalanannya sangat lama.



Sebetulnya yang kita lewati menarik tetapi karena tegang sehingga detailnya kurang diperhatikan secara seksama. Melewati dinding terjal yang ada di bibir pantai yang eksotis. Ada beberapa batu yang diberi nama sesuai denagn bentuknya, seperti batu kodok karena berbentuk kodok,batu kingkong karena berbentuk seperti kingkong, batu buaya karena berbentuk seperti buaya. Tapi yang paling menarik adalah batu layar yang berdiri tegak nan indah.



Ada yang aneh yaitu batu yang berdiri tegak seperti orang yang katanya seperti cerita maling kundang. Ketika terlihat dari jauh kelihatan batu itu berdiri tegak tapi ketika berada tepat di depan batu tersebut batunya tidak kelihatan tapi setelah menjauh kembali terlihat berdiri tegak kembali. Setelah itu terlewati juga karang bolong yang banyak terdapat kelelawar yang akan keluar pada malam hari, juga terdapat sarang brung walet yang sekarang dikelola oleh pemda setempat. Di sana juga air terjun yang pada saat kemarau airnya kering cuma terlihat batas aliran air di dinding tebing.



Disana juga melewati tempat dimana penduduk setempat mengambil rebon untuk membuat terasi yang berjajar panjang di sebelah timur cagar alam berupa tonggak-tonggak kayu yang berjajar berbentuk segiempat dan diatasnya ada rumah kecil dan di bawahnya terdapat jaring untuk menagmbil rebon. Sampailah di bagian sis timur cagar alam yang disambut denagn monyet-monyet yang tinggal di hutan disana. Pengalaman yang tidak terlupakan walau adrenalin meningkat,dan harus pusing dan mual karena terombang-ambing oleh ombak yang tinggi. tapi tersadar betapa nelayan untuk mencari nafkah harus melewati ombak yang begitu besar yang katanya lebih tinggi dibandingkan yang kami hadapi. Astaga........kok ya berani-beraninya kami ikut wisata ini....tapi yang jelas rasanya plong yang kami rasakan setelah sampai tujuan.