Sabtu, 10 April 2021

Perpustakaan Berkonsep Unik Di Rangkasbitung

 

Gambar dari sini

Literasi memang penting. Banyak kegiatan literasi yang mulai digalakan di banyak daerah agar masarakat gemar membaca. Karena dengan membaca waawasan kita akan lebih luas .Dan mulai banyak daerah yang membenahi perpustakaan yang ada dan ada lagi yang mulai membangun perpustakaan. Semua demi bisa menggiatkan literasi di daerahnya. Waktu jalan-jalan ke Rangkasbitung di sebelah museum Multatuli terdapat perpustakaan yang cukup megah di sana. Namanya Saija Adinda. Ini perpustakaan dengan konsep yang berbeda dengan perpustakaan yang lain.Salah satunya yang unik adalah adanya bioskop mini di sana. Dan layanan di sana sangat memudahakan kaum difabel, ada lift , toilet khusus difabel. Dan disini juga terdapat mushaf Al Quran yang bertuliskan huruf braille.

 

Nama perpustkaan Saija Adinda adalah sebuah cerita yang dituliskan oleh Multatuli sebagai mantan residen Lebak saat itu. Jadi ceritanya Saija ini adalah lelaki yang memiliki kerbau kesayangan. Dan saat ayahnya gak bisa bayar pajak ke Belanda yang mencekik akhirnya kerbau ini dirampas oleh Belanda. Mereka akhirnya jatuh miskin karena kerbau itu jadi andalan untuk bertani..Akhirnya ibunya meninggal. Dan ayahnya lari ke Bogor tapi diatngkap Belanda.. Sedangkan Saija sedang menjalani hubungan dengan perempuan dengan nama Adinda. Adinda adalah teman mainnya. Saija ingin pergi ke Batavia untuk mengadu nasib agar bisa membeli kerbau dan uang untuk melamar Adinda. Adinda keberatan tapi apa daya Saija berkeras hati untuk merantau dan berjanji akan kembali 3x 12 bulan.Saija bekerja keras menjadi tukang bendi pada tuan Belanda. Sedangkan Adinda harus mengungsi ke Lampung karena tak mau lagi diperas Belanda.Saat Saija pulang ke Lebak dia hanya melihat rumah Adinda yang kosong dan disarankan untuk menyusul Adinda ke Lampung . Tapi terlambat Belanda menyerang Adinda sampai mati. Dan Saija terlambat datang.Saija mengamuk dan melawan Belanda dengan membabi buta. Dan akhirnya ia bunuh diri .Akhirnya kisah tragis ini diabadikan menjadi nama perpustakaan di Rangkasbitung ini.

 

Bentuk banguannya benera-benar terlihat suasana sundanya.Kalau dilihat dari luar bangunannya terlihat seperti leuit atau bangunan dengan kearifan lokal untuk menyimpan bahan makanan pokok.Banyak nuansa bambu yang dipesan dari pengrajin bambu di daerah Lebak.Perpustakaan juga kadang menggandeng beberapa komunitas berkegiatan di sana agar masarakat bisa turut aktif dan berkunjung ke perpustakaan. Kelengkapan buku juga sangat diprioritaskan dari bantuan yang ada seperti dari perpustakaan nasional. Dan sumbangan mobil perpustakan keliling yang memudahkan akses bagi masarakat di desa-desa. Dan yang perlu diketahui layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial sudah hadir di beberapa desa Cibeber, Warung Banten,Wanasalam, Ciladaen dan Ciparasi . Desa ini semuanya ada di Lebak selatan. Dan perlu diketahui kabupaten Lebak memiliki geografis yang sulit untuk masuk ke desa-desa untuk layanan perpustakaan.

 

Perpustakaan yang ada di sebelah museum ini sudah sebagai oase bagi masarakat yang memang membutuhkan bahan bacaan. Dan tempat yang nyaman juga membuat masarakat sangat betah berada di sana. Waktu ke Rangkasbitung sangat disayangkan perpustakaan sedang tutup karena ada perbaikan. Akhirnya hanya bisa melihat dari samping di museum Multatuli dan dari depannya saja.. Nah, siapa yang mau jalan-jalan ke sana jangan lupa mampir ke perpustkaan ini.

10 komentar:

Riza Firli mengatakan...

di dalam perpusnya kok di foto2 kak..

agus kurniawan mengatakan...

Perpustakaan, gedung langka di Infonesia....

Tira Soekardi mengatakan...

iya mas firli, waktu itu perpustakaanya tutup

Tira Soekardi mengatakan...

iya mas agus, daerah hrs aktif bikin perpusda

Pipit Piharsi mengatakan...

Ini dari rumah saya jaraknya satu jam perjalanan, Mba.

arsitekturnya memang unik karena menggambarkan leuit/ lumbung padi yang menjadi ciri khas suku Baduy dan ramah difabel.

Tempatnya sangat nyaman, meski workspacenya kecil, tapi sofa-sofanya empuk dan Acnya dingin. Penting banget ini buat saya ruangan yang dingin kalau lagi baca. wkwkw...

Tira Soekardi mengatakan...

emang mbak pipit tinggal dimana, aku lagi nengok anak di BSD, jd ke sana naik krl yang arah rangkasbitung dari rawabuntu

Tanza Erlambang - Sawan Fibriosis mengatakan...

keren deskripsi tentang perpustakaannya.... pasti asiik di dalamnya.

Thank you for sharing

Tira Soekardi mengatakan...

sama2 mas tanza

Sayyidah Inayah mengatakan...

tulisannya membuat saya rindu ke perpus bung karno blitar. sudah lama gak bisa sambang perpus karena corona.. yah.. curhat malahan!

Tira Soekardi mengatakan...

ya , perpustakaan bagi yg suka baca ini sesuatu ya mbak sayyidah

Posting Komentar