Minggu, 22 Desember 2013
Label: kesenian
Jumat, 08 November 2013
Kebetulan saat menunggu kereta ke Cirebon yang masih lama, aku berjalan-jalan di lapangan Monas dan bertemu dengan ondel-ondel. Akhirnya aku memutuskan foto bersama dengan ondel-ondel dan memberikan uang pada keropak yang dibawanya. Seingatku ondel-ondel adalah salah satu bentuk kesenian dari Betawi .
Sejarahnya ondel-ondel ini sudah ada sebelum Islam tersebar di pulau Jawa.. Dulu sekali ondel-ondel ini digunakan sebagai penolak bala yang berfungsi untuk mengusir roh-roh halus yang mengganggu manusia. Makanya bisa dilihat wajah dari ondel-ondel yang menyeramkan.. Seiring dengan waktu akhirnya ondel-ondel ini digunakan sebagai sarana hiburan rakyat. Biasanya dipertontonkan pada acara hajatan orang Betawi, meramaikan pesta rakyat atau acara penyambutan tamu-tamu negara.
Ondel-ondel ini salah satu bentuk kesenian ynag termasuk teater tanpa tutur, karena dulunya berfungsi sebagai personifikasi leluhur sebagai pelindung.Sedang musik pengiringnya tergantung dari rombongannya. Ada yang diiringi dengan tanjidor, pencak silat Betawi, juga bisa diiringi dengan bende, ningnong dan rebana ketimpring.
Bentuk ondel-ondel berupa boneka besar yang tingginya mencapai 2,5 meter dengan garis tengah 80 cm . Dibuat dari anyaman bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dipanggul. Bagian mukanya berbentuk topeng dengan rambut terbuat dari ijuk. Untuk warna, ondel laki-laki diberi warna merah wajahnya sedangkan yang perempuan warna putih.
Keberadaan ondel-ondel ini kurang diminati saat ini , sehingga hanya terlihat di acara pesta rakyat atau menyambut tamu yang jumlahnya sangat sedikit. Ironisnya seperti yang terlihat di lapangan Monas, hanya digunakan sebagai sarana meminta uang dengan berfoto dengan ondel-ondel. Alangkah baiknya kalaupun dipakai sarana untuk mendapatkan uang esensi dari kesenian ondel-ondel masih ditonjolkan. Artinya lengkap dengan alat musik pengiringnya dan disajikan dengan apik sehingga seninya akan muncul.
Label: kesenian
Selasa, 24 September 2013
Tari Kecak merupakan tari masal yang dilakukan oleh banyak orang. Dilakukan oleh para pria yang menggunakan kain kotak-kotak di bagian pinggangnya dan bertelanjang dada, dan kelompok ini mengeluarkan suara sebagai pengiring tarian dan mengeluarkan suara cak...kecak...cak...cak...kecak..cak sehingga disebut dengan Tari Kecak. Tari Kecak ini merupakan seni drama dan tari karena menggambarkan seni peran serta diikuti dengan tarian. Biasanya lakon yang dipertunjukan adalah cerita Ramyana. Selain itu pada tarian itu ada hal-hal yang mistik seperti kekebalan secara gaib sehingga tidak terbakar oleh api.
Acara di mulai ketika beberapa obor dinyalakan dan masuk seorang Brahmana memercikan air suci ke sekeliling panngung. Suasana hening, dan dilanjutkan dengan segerombolan pria bertelanjang dada masuk dengan mengeluarkan suara cak...kecak...cak...cak, berkeliling panggung dan menempatkan diri dalam posisi tertentu.
Diceritakan Rama dan Shinta sedang berada di tengah hutan bersama dengan Leksmana. Shinta melihat kijang emas yang lucu dan Shinta menginginkan kijang tersebut padahal kijang itu hanya jelmaan saja untuk memancing Rama menangkap kijang tersebut, karena Rahwana sedang mengincar Shinta untuk dijadikan istrinya.
Sewaktu akan menangkap kijang tersebut Leksmana disuruh menjaga Shinta ,tetapi tidak lama kemudian terdengar suara minta tolong seperti suara Rama.Leksmana akan membantu Rama tetapi sebelumnya dia membuat lingkaran api untuk menjaga Shinta, itu digambarkan pria-pria yang bertelanjang dada tadi berada melingkari Shinta.
Datanglah Rahwana menggoda Shinta. Lucunya saat menggoda Rahwana menggunakan bahasa campur-campur, Bali, Indonesia dan Inggris yang diplesetkan, seperti I lope you pull Shinta. Lucu juga sehingga penonton tertawa geli. Tetapi Rahwana tidak bisa mendekati Shinta karena sudah dilindungi dengan lingkaran magis.
Tak kehilangan akal Rahwana menyamar jadi Brahmana /pendeta tua. Sehingga ketika Brahmana ini meminta sesuatu ke Shinta, Shinta secara tidak sadar mengeluarkan tangannya untuk memberi sesuatu pada Brahmana.Rahwana langsung menarik tangan Shinta keluar dari lingkaran magis dan membawanya ke kerajaan Alengka.
Rama dan Leksmana dalam pengejaran terhadap kijang bertemu dengan Rahwana dan dengan kesaktiannya Rahwana mengeluarkan naga yang melilit Rama dan Leksmana. Mereka berdua diselamatkan oleh Jetayu burung yang sangat besar.
Suatu hari Shinta berada di taman di kerajaan Alengka ditemani dayang-dayang dan datanglah seekor kera putih Hanoman namanya. Hanoman memperlihatkan sebuah cincin milik Rama agar Shinta percaya kalau dia utusan Rama. Kemudian Hanoman merusak taman dan negara Alengka dan ini membuat Rahwana marah.
Hanoman ditangkap dan dibakar hidup-hidup tapi karena kesaktiannya Hanoman bisa lolos dari kobaran api. Nah, disini unsur magisnya dimana para penari tidak tergores sedikitpun kena api walaupun mereka menginjak-nginjak apinya.
Akhirnya Rahwana berperang dengan Rama dan akhirnya Shinta bisa diambil kembali oleh Rama.
Setelah selesai pertunjukan , penonton diberi kesempatan untuk berfoto dengan pemain-pemainnya. Terus terang saya sangat tertarik dan terpesona dengan Tari Kecak ini, penuh dengan pesona dan gemulainya penari. Para pria yang mengeluarkan suara juga tidak kalah menariknya, dimana suaranya bisa lembut, keras , cepat, lambat tergantung jalan ceritanya.
.
Label: kesenian
Sabtu, 10 Desember 2011
Cirebon terkenal dengan tari topengnya yang dalam kenyataannya sudah populer sejak zaman majapahit antara tahun 1300-1400. Dan dalam kehidupan masarakat Cirebon kesenian topeng erat kaitannya dengan kesenian wayang. Pada masa Cirebon sebagai pusat penyebaran agama Islam mengfungsikan tari topeng sebagai upaya penyebaran agama Islam dan sebagai tontonan.
Tari topengmerupakan seni tradisional yang menonjolkan penggunaan penutup muka berupa topeng/kedok oleh para penarinya pada pementasannya.. Unsur yang terdapat pada tari topeng Cirebon penuh dengan arti simbolik dan penuh pesan terselubung. Ada 5 macam tari topeng di Cirebon dan salah satunya adalah Tari topeng Tumenggung.
Tari Tumenggung/Patih mempunyai ciri karateristik gagah dilatarbelakangi kisah Tumenggung Magang Diraja yang diutus untuk menaklukan Jingganom. Kedok yang harus digunakan untuk tokoh Tumenggung yaitu Slasi, Drodos,Sanggan. Sementara tokoh Jingganom memakai kedok tatag, prekecil,peloran, mimis.
Di acara sekolah putriku menarikan tari topeng Tumenggung berdua dengan temannya.Boleh dilihat gerakan yang gagah bak ksatria Tumenggung. Wih ,....dug..dug jreng.....ayo lestarikan budaya asli Indonesia
Label: kesenian