Sabtu, 09 Januari 2021

Ibu Dan Anak Perempuan

 


Ternyata menurut  penelitian hubungan ibu dan anak perempuannya sangat menantang dibandingkan hubungan ayah dan anak perempuan. Hubungan ibu dan anak perempuan mulai dari kecil sampai dewasa. Apalagi saat anak mulai menginjak remaja, maka akan banyak perbedaan pendapat antara  ibu dan anak perempuan.Katanya juga hubungan anak perempuan dan ibu tergantung kemampuan ibu untuk tumbuh dan berubah dalam hubungan.Saat ibu tak bisa berubah sesuai dengan usia anak bertambah  maka hubungan akan sulit.Coba saja saat anak kecil mereka masih bisa menuruti apa kemauan ibunya, saat remaja akan selalu membantah apa yang diperintahkan oleh ibunya. Nah, saat ibu tak bisa mengubah cara berkomunikasi dengan anaknya tentu komunikasi akan terhambat. Anak akan berubah sesuai dengan usia mereka , kalau ibu masih menerapkan pola yang sama saat anak masih kecil pastinya akan selalu bertentangan dengan ibunya. Nah, kadang anak selalu merasa ibunya sangat cerewet , galak, sok ngatur hidupnya. Pokoknya  semua apa kata ibunya selalu salah. Sedang ibunya melakukan ini untuk katanya demi kebaikan anak tapi kenyataanya malah terjadi konflik.

 

Makanya perlu usaha agar konunikasi antar ibu dan anak terjalin baik

  • 1.      Menjadi pendengar yang baik. Nah, ini sering salah karena ibu sering melakukan seperti interogasi. Ini yang membuat anak malah menjadi kesal, malah menjauh dari ibunya. Cukup menjadi pendengar setia apa yang anak rasakan, apa yang membuat anak kesal, sedih atau gembira.
  • 2.      Mendukung anak. Dukunglah apa yang anak suka, bukan ibu suka. Kalaupun ibu menginginkan anak melakukan sesuatu, cukup ditanyakan apa dia mau atau tidak. Kalau tidak mau jangan dipaksakan. Kalau perlu ibu bisa melakukan hal bersama-sama yang disukai bersama atau juga yang disukain anak. Ibu harus mau mengalah untuk bisa menikmati kesukaan anak.
  • 3.      Menjadi teladan. Anak perempuan juga akan mengikuti apa yang dilakukan ibunya. Saat ibunya bisa menjadi pendengar yang baik, tentunya anak akan mau mendengarkan apa yang diceritakan ibunya.
  • 4.      Jadi sahabat terbaik bagi anak.agar anak mau mengeluarkan perasaannya pada ibunya. Selama ini anak sering bisa bicara dengan sahabatnya. Makanya ibunya harus bisa berkumunikasi sebagai sahabat bagi anaknya sehingg anaknya akan mau menceritakan banyak hal pada ibunya sebagai sahabat.

Pengalaman aku dengan anak perempuanku, banyak sih kendalanya. Sering konflik terutama saat remaja. Terutama saat dia mau jalan-jalan sama temannya. Aku memberikan aturan yang mungkin memberatkan dirinya. Menganggap ibunya membatasi ruang geraknya. Sedang aku memikirkan anakku masih remaja tentunya ada batasan yang dia tak bisa karena belum dewasa. Walau kesal tapi anakku bisa mengerti. Toh dia juga akhirnya mengerti karena setelah dia kuliah , aku juga lebih membebaskan dalam banyak hal. Apalagi sekarang sudah bekerja. Sudah aku lepas , karena aku tahu dia harus sudah bisa memutuskan apa yang menjadi masalahnya sendiri. Bahkan anak perempuanku juga sadar , mengapa aku dulu seperti itu. Dia suka bilang, ternyata apa yang diomongin mama dulu benar adanya.

Sekarang hubungan aku dengan anak perempuanku sudah seperti sahabat walau sekali-kali aku masih suka memberikan perintah ini itu. Tapi anakku lebih bisa menerima dibandingkan dulu. Karena dia sadar apa yang diomongin ibunya ternyata benar adanya. Aku juga merasakan hubungan aku dengan anak perempuanku sekarang lebih seperti teman. Dan anakku juga selalu bercerita , kalau apa yang dulu sering aku nasehatkan selalu menjadi kenyataan dalam hidupnya. Dan anakku merasakan kebenaran apa yang dinasehatkan ibunya. Sungguh perjuangan hubungan anak dan ibu yang penuh perbedaan akhirnya bisa menemnukan titik dimana bisa saling mengerti satu sama lainnya. Kini tinggal merasakan hubungan yang baik dan akan selalu merindukan berkumpul bersama terus.

Jumat, 27 November 2020

 

 
Gambar dari sini

Urusan rumah tangga mulai dari masak, berbenah dan masih banyak lagi adalah pekerjaan yang tak pernah selesai-selesai.Kebayang sekali ya pekerjaan rumah tangga itu berat, jangan disepelekan. Kadang kita sering jadi stres karena saking banyaknya pekerjaan yang belum terselesaikan di rumah. Untungnya paksu bukanlah orang yang harus selalu dilayani , paksu selalu membantu pekerjaan rumah tangga . Apalagi aku sendiripun bekerja. Waktu anak-anak masih di bawah 4 tahun aku menggunakan ART tapi setelah itu aku tak menggunakan lagi. Makanya setelah anak-anak masuk usia sekolah, aku dan paksu mulai membagi tugas apa yang harus dikerjakan anak-anak untuk membantu kami berdua dalam urusan pekerjaan di rumah. Aku memasukan piring kaca ke lemari dan aku ganti dengan piring plastik dan gelas plastik, agar anak-anak bisa mencuci sendiri piring setelah makan biar gak pecah. Dan keuntungan bagiku kalau lagi buru-buru nyuci piring , naruhnya gak harus hati-hati bisa cepat. Waktu itu belum ada magic com, jadi kedua anakku aku ajarkan menanak nasi secara manual. Mulai dari mengaron sampai mengkukus di dandang.  Mereka punya kunci ruamh masing-masing sehingga pulang sekolah mereka bisa masuk ke rumah.

 

Dalam kehidupan sehari-hari ada pembagian dua jenis peran dalam rumah tangga yaitu

1.      Peran tradisonal.adanya perbedaan tugas yang ketat antara suami dan istri. Suami bekerja di luar untuk mencari nafkah. Sedangkan istri melayani dan melakukan pekerjaan domestik termasuk pengasuhan anak.Terjadinya pembagian tugas yang ketat ini dikarenakan steriotipe akan peran laki-laki dan perempuan. Laki-laki dianggap maskulin , dominan yang cocok untuk bekerja di luar. Sedangkan perempuan yang lembut , feminin lebih cocok di rumah.

2.      Egaliter.Dimana pembagian tugas sudah sangat fleksibel.Jadi peran suami atau istri tak ada sekat seperti pada pembagian secara tradisional lagi. Jadi tak ada yang salah saat suami membantu istri di rumah dan tak ada yang salah istri bekerja di luar rumah. Jadi di sini lebih diutamalan berbagi peran

Menurut penelitian pasanagn suami istri yang keduanya egaliter lebih bahagia dibandingkan keduanya tradisional. Hal ini karena mereka berdua bekerja sama dalam urusan domestik dan ini tanpa beban dan saling mendukung satu sama lainnya. Perlu kesadaran kalau pasangan adalah patnership dalam bahtera rumah tangga. Semua harus bisa dikerjakan bersama-sama. Dengan cara bagaimana. Dengan cara mendiskusikannya apa yang dikerjakan masing-masing, apa yang dikerjakan bersama. Bila salah satu ada yang tidak bisa karena sesuatu hal, bisa dibicarakan lagi. Jadi sangat fleksibel untuk dibicarakan antar pasangan, jadi tak terlalu saklek . Tergantung siatuasi juga. Kalau salah satu sakit agar pekerjaan di rumah bisa selesai, bisa untuk sementara makan pakai katering dulu. Masih banyak lagi sih yang bisa dibicarakan dalam pembagian tugas di rumah. Jangan jadi penghalang, fleksibel sehingga nyaman dalam melakukan aktivitas urusan domestik. Semua akan merasa terbantukan satu sama lainnya kalau dibicarakan baik-baik.

 

Apakah anak perlu diikutsertakan. Perlu banget. Aku sendiri sejak anak SD sudah membiasakan cuci piring bekas makannya sendiri dan membereskan kamar tidurnya sendiri dan juga setelah bermain dengan mainnanya  harus dikembalikan pada tempatnya.Jadi bisa dilakukan pembagian tugas sesuai dengan tingkatan umur anak-anak. Aku merasakan sendiri anak-anak tumbuh dengan tanggung jawab besar karena mereka dibiasakan bertanggung jawab menjalankan tugas domestiknya di rumah. Setelah anak-anak menginjak remaja, dua anakku dibagi tugas tambahan yaitu satu nyapu seluruh rumah dan yang satu mengepelnya. Dan ini menurutku menjadi bekal anak-anak kelak kalau sudah beumah tangga, mereka sudah terbiasa dengan pekerjaan domsetik dan bisa memberi contoh agar dalam rumah tangga itu perlu kerja sama antar anggota keluarga agar pekerjaan di rumah terselesaikan. Dan ini harus dilakukan konsisten agar menjadi teladan bagi anak-anak kelak. Jadi pembagian tugas dalam urusan domestik seharusnya dimulai sejak awal menikah dan setiap bulannya bisa dievaluasi apa yang harus dirubah atau yang harus ditingkatkan sehingga semua terselesaikan  dengan baik.

Sabtu, 13 Juni 2020

Sekolah Lagi


Gambar dari sini

Sudah hampir 3 bulan lebih wabah corona berlangsung dan masih belum terlihat hasil memuaskan. Dan memang akhirnya kita harus berdamai dengan virus corona ini. Bukan kita pasrah , memang kenyataan yang kita hadapi seperti ini. Bagi anak-anak selama pandemi ini semua diliburkan dan belajar di rumah. Ternyata belajar dari rumah tidak segampang yang dibicarakan, banyak kendala yang dihadapi baik siswa maupun orangtua. Dan bahkan gurupun banyak yang belum bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi saat anak-anak harus belajar di rumah. Lalu efektikah saat anak-anak belajar di rumah. Hal ini bisa dilihat dari sudut anak , orangtua dan guru, lingkungan Keempat faktor ini sangat berpengaruh efektif atau tidaknya belajar dari rumah.

1 Dari sisi anak. Anak memiliki fasilitas lengkap . internet yang bagus, ponsel dan laptop untuk belajar dari rumah. Nah, dengan fasilitas ini anak-anak memungkinkan untuk belajar dengan baik, karena semua sarana tersedia.Bagaimana dengan anak-anak yang tak memiliki fasilitas bahkan untuk beli kuota saja orangtuanya harus mencari tambahan uang.
2. Orangtua . Pendidikan orangtua juga sangat berpengaruh terhadap kelancaran anak belajar. Dengan pendidikan orangtua yang bagus bisa mendampingi anak-anak untuk belajar dengan baik. Membantu anak-anak untuk berdisiplin dalam hal belajar. Nah, tentunya kendala bagi ibu-ibu yang bekerja di luar rumah. Bagaimana bisa mendampingi anak-anak bisa belajar. Mau tak mau belajar akan dialihkan saat ibunya pulang kerja. Atau anak mengerjakan yang bisa dulu baru nanti yang tak bisa menunggu ibunya pulang kerja.Bagaimana dengan orangtua yang pendidikannya kurang, yang gak bisa membantu anaknya belajar.Bagaimana dengan anak yang hidup dengan neneknya atau saudaranya.
3. Guru. Beberapa yang saya amati, kebanyakan guru hanya memberikan banyak tugas yang membuat anak dan orangtua kewalahan dengan tugas tersebut. Apalagi kalau tugas itu menyangkut materi yang belum diajarkan saat di sekolah. Beberapa sekolah yang bagus dan gurunya memang mau beradaptasi mereka bukan hanya sekedar memberi tugas saja tapi membuat vidio pembelajaran, yang berisi materi yang diterangkan dengan contoh-contoh soalnya, baru ada tugas yang diberikan.
4. Lingkungan. Lingkungan sangat berpengaruh sekali. Bagaimana dengan anak-anak yang berada di lingkungan padat penduduk, anak-anak di desa, anak-anak di perkampungan pinggir kota. Dimana mereka gak punya tempat yang nyaman untuk belajar karena rumahnya kecil, berdempetan. Belum lagi banyak anak-anak akhirnya lebih banyak bermain karena lingkungan gak memungkinkan mereka untuk belajar. Di desa-desa dimana sarana belajar gak ada , mereka lebih suka bermain di alam dengan bebas.

Jadi efektif atau tidaknya belajar dari rumah bisa dinilai sendiri dari keempat faktor tersebut. Saya punya komunitas anak di desa nanggela, selama pandemi ini tetap melakukan belajar tapi saya memberikan vidio-vido pembelajaran kreatif dan mereka menyetorkan tugas. Dari 30 anak yangsetor hanya 15 anak. Kendala yang dihadapi adalah banyak yang gak punya ponsel, kalau punya minim kuota dan lingkungan dan pendidikan orangtua yang kurang. Ternyata gak semua anak-anak bisa belajar dengan baik di rumah. Bahkan banyak sekolah yang anak-anaknya memang gak punya ponsel, menyuruh anak-anak datang ke sekolah untuk mengambil tugas. Kalau tugasnya diketik dan difotocopi lebih enak ya. Tapi ada yang ambil tugas yang harus menulis dulu dari papan tulis. Dikerjakan dari rumah nanti dikumpulkan lagi ke sekolah. Lah, ini sama saja seperti sekolah biasa dong.

Makanya dengan adanya new normal apakah mungkin sekolah dibuka kembali? Dan perlu diingat hak anak adalah bisa mendapatkan pendidikan dengan baik. Padahal gak semua anak bisa mendapatkan belajar dengan baik saat di rumah saja. Makanya new normal sekolah adalah mungkin untuk dibuka kembali agar setiap anak punya hak belajar yang sama. Kadang suka sedih saja, melihat anak-anak yang gak bisa belajar karena sarananya kurang, sedih masih lihat anak-anak gak belajar tapi berkeliaran di luar. Orangtua yang anaknya gak punya sarana belajar yang memadai malah menginginkan anaknya belajar kembali karena kalau tidak seharian bisa bermain terus dengan teman-teman yang lainnya. Belum saya menemukan ibu penjual kerupuk menangis saat saya kasih uang lebih , karena uangnya bisa beli kuota buat anaknya yang mau ujian besok. Dan itu bukan satu atau dua orang tapi cukup banyak yang kesulitan membeli kuota internet.

Nah, bagaiaman bagi orangtua juga yang bimbang saat new normal ini, menurut aku solusinya ada tiga
1 Homeschooling. Bagi orangtua yang mampu mengajarkan anak-anaknya sendiri bisa melakukan homeschooling sesuai kurikulum sekolah
2 Semi homeschooling. Bekerja sama dengan sekolah. Sekolah memberikan vidio pemelajaran dan tugas ke anak untuk dipelajari dan dikerjakan. Sementara anak-anak yang lain sekolah. Materi yang di rumah dan di sekolah sama. Dengan demikian yang sekolah tak terlalu banyak.
3. Sekolah dengan protokol kesehatan ketat. Jumlah siswa sudah berkurang karena ada yang homeschooling dan yang semi homeschooling.Mungkin agar tak banyak anak dalam satu kelas mungkin bisa dilakukan shift2an. Sehingga satu kelas hanya berisi 15-20 orang. Kalau sudah ada anak yang homeschooling atau semi tentunya yang ke sekolah tinggal sedikit. Dan protokol kesehatan harus dijalani seperti cuci tangan , jaga jarak,pakai masker. Mungkin jam belajar dikurangi hanya 4 jam dulu saja dan tak ada istirahat sehingga meminimalisir anak-anak berkerumun. 

Bagi saya ini sangat adil, sehingga anak-anak yang gak punya akses belajar , tetap bisa belajar denagn protokol kesehatan ketat. Aku suka sedih lihat anak-anak yang terkendala dengan fasilitas dan sarana.Akhirnya mereka malah sibuk bermain.Lah di kemarin-kemarin banyak yang ambil tugas ke sekolah dan duduk di kelas bersama-sama , malah membahayakan. Tapi dengan new normal dengan protokol kesehatan jelas akan lebih nyaman bagi anak maupun guru. Bisa? Ya harus bisa. Anak-anak bisa diajarkan untuk disiplin dan guru harus bisa tegas pada anak-anak didiknya.  Semoga harapan saya agar anak-anak yang gak punya akses belajar bisa sekolah kembali secepatnya agar mereka tidak tertinggal dalam belajarnya. 

Tulisan ini bukan untuk diperdebatkan antara orang-orang yang setuju sekolah dan tak setuju sekolah. Tapi hanya memberikan fakta bahwa gak semua anak bisa belajar dengan baik saat pandemi karena banyak faktor di atas. Padahal pendidikan adalah hak setiap anak tanpa kecuali.

Jumat, 03 April 2020



Gambar dari sini 
 

Bertengkar adalah hal yang biasa dalam kehidupan kita. Bahkan anak-anak sekalipun sering terlibat dengan pertengkaran. Sangat manusiawi, karena perbedaan pendapat, karena ada salah satu yang jahat atau masih banyak hal lainnya yang bisa sebabkan kita bertengkar. Bagaimana kalau anak kita bertengkar dengan temannya. Apa yang harus kita lakukan. Apalagi kalau lihat anak kita menangis , atau jadi sedih atau malah berkelahi dengan temannya. Apa yang kita lakukan sebagai orang tua. Dulu saat anak-anak masih kecil, saat mereka bertengkar dengan temannya. Aku selalu menanyakan kronologis dari sisi anakku. Dan aku selalu membiasakan anak-anak untuk berkata jujur. Kenapa? Agar jangan sampai kita punya informasi yang salah. Kalau informasi salah tentu kita akan menyalahkan temannya saja . Saat tahu permasalahannya, aku selalu melihat apakah posisi anakku salah atau benar. Kalau salah aku selalu menyuruh mereka minat maaf. Tapi pernah temannya tak mau memberi maaf, tapi aku selalu mengatakan tak mengapa yang penting kamu sudah meminta maaaf. Kalau pihak temannya salah, aku selalu menyuruh anak-anak menyelesaikan sendiri tanpa aku turut campur tangan. Biasanya aku memberikan banyak solusi yang bisa diambil mereka.  Tapi kalau berbau fisik, aku selalu bilang anakku harus menghindar dari teman seperti itu. Kalau tak bisa lagi menghindar aku akan datang ke gurunya untuk melaporkan temannya itu. Jadi aku selalu melatih mereka menyelesaikan konflik dengan temannya sejak kecil,lagi kecil dengan banyak memberikan solusi, setelah remaja, aku biarkan berpikir sendiri kalau sudah mentok, aku membantu memberikan solusi. Nah, ini perlu keterbukaan anak dan orang tua. Jangan sampai anak bertengkar dengan temannya , tak mau cerita. Kalau hanya pertengkaran kecil mungkin tak apa , kalau pertengkaarn hebat tentaunya perlu penanganan yang benar.

Menurutku yang perlu dilakukan orang tua kalau anaknya bertengkar dengan temannya adalah

Biarkan anak menyelesaiakn msalahnya sendiri.
Ini bukan berarti kita lepas tangan sebagai orangtua, tapi kita melatih anak agar mampu menyelesaikan masalah saat ada konflik dengan temannnya. Jadi saat anak bertengkar sebetulnya anak itu sedang belajar menghadapai kecerdasan sosial. Bagaimana anak belajar mengatasi masalah, bagaimana dia harus  bisa menurunkan egonya atau harus mengalah.. sebaiknya orangtua tak perlu turut campur selama itu tak membahayakan anak kita. Dan mengajarkan anak juga meminta maaf kalau di salah. Juga memberitahu kalau dia disakiti secara fisik atau jiwa untuk melaporkan pada orangtuanya. Karena jangan sampai tak  ada komunikasi antara anak dengan orangtuanya sehingga orangtuanya gak tahu masalah apa yang dihadapi anaknya. Atau orangtua tidak tahu kalau anak mengalamai kekerasan fisik atau jiwa. Jadi pentingnya membuka komunikasi antara anak dan oarngtua yang lancar.

Jangan menegur atau membela di depan banyak orang.
Bila anak kita menjadi korban oleh temannya jangan pernah menegur temannya di depan banyak orang. Begitu juga kalau anak kita yang salah jangan memarahi di depan banyak orang. Hal ini bsia berdampak buruk pada kejiwaan anak. Membela anak di depan yang lain membuat anak jadi besar kepala , dan membuat yang lainnya terhina. Cukup pisahkan. Dan bawa anak kita menjauh. Bisa saat itu diberitahu atau di rumah saat anak sudah tenang. Dan jangan membuat mereka menjadi dendam satu sama lainnya.

Jangan mebenci orangtua teman yang bertengkar
Nah, ini yang sering terjadi bagi ibu-ibu yang suka jadi membenci ibu dari teman anaknya yang bertengkar. Bahkan sering jadi serius bertengkarnya padahal kadang anak-anaknya sih sudah akur kembali.

Jadi mengajarkan anak untuk tak terpancing emosinya. Anak diajarkan untuk bisa menenangkan diri untuk segera meencari solusinya. kalau tak bisa anak bisa menanyakan pada orangtuanya. Dan anak diharapkan untuk bisa saling memaafkan setelah bertengkar sehingga bermusuhannya tak terlalu lama. Anak-anak diajarkan untuk tidak gengsi untuk meminta maaf duluan/ Nah, sejak kecil anak-anak memang diajarkan untuk mengatasi konflik yang terjadi agar kelak dia bisa mengatasi konflik dengan bijak.

;;